Ajen dan Buku yang Dibacanya

Surga kecil di balik tumpukan buku

Rabu, 28 Maret 2018





Keterangan Buku
Judul : Good Fight 
Pengarang : Christian Simamora 
Editor : Gita Romadhona
Tahun Terbit : 2012

Blurb

Dia tak benar-benar mencintaimu, kau dan aku sama-sama tahu itu.
Dibawakannya kau bunga, tetapi bukan kesukaanmu. Digenggamnya jemarimu, tetapi tidak cukup mesra. Dia mencium bibir indahmu, lalu cepat-cepat menyudahinya.

Puaskah kau dengan cinta seperti itu?
Sampai kapan kau terus duduk di situ, menunggu dia berbalik menginginimu?

Berhentilah mengabaikanku.
Tak bisakah kau memberiku kesempatan juga? Lirik aku sebentar saja. Dengarkan aku sebentar saja. Biar aku buat kau percaya, hanya aku yang bisa membuatmu bahagia.

Hanya aku—bukan dia.
 

Hai guys.. Maaf banget selama ini enggak sempat untuk memperbaharui blog ini. Baru sempat lagi ini.... huhuhuhu

Gue jarang banget baca romance penulis Indonesia, karena gue tumbuh dengan Harlequin yang hot dan sederhana. Salah satu Indonesian Romance Author favorite aku yah si Chriatian Simamora, menurut aku sih kekuatan Abang ini adalah tokoh ceritanya yang hidup. Aku kenalan sama Pillow Talk tahun 2010 dan suka kisah cinta sahabat itu. Beberapa waktu lalu aku membongkar lemari buku dan menemukan Good Fight di sana. Karena kepalaku banyak pikiran dan pengen diajak santai, maka buku ini jadi teman selama 3 hari.. aku pun mengajak Joko untuk mebaca. Sikap maskulinitasnya tertantang membaca buku ini, kemudian merasa Buku ini bagus untuk para anak muda zaman Now.

Ceritanya adalah tentang Tere dan Jetro. Keduanya adalah teman kantor di sebuah majalah fashion dan bisa dibilang saling benci. Tere pacaran sama tunangan orang. Jet pacaran sama istri orang. Keduanya merasa  senasib, sampai akhirnya kebencian diantara mereka berubah jadi cinta. Namun namanya cinta pasti ada aja halangannya, apakah mereka dua bisa mengatasinya?? Ini adalah percakapan gue dengan Joko.

"Terima kasih sudah bikin gue baca Romance. Malasin sih sebenarnya. Tapi gue pikir yang nulis ini, sapa namanya? Chritian yah? Doi sering nonton Romance Drama Amerika" ujar Joko.
"Maksudnya?"
" Iya plotnya kaya film drama romantis buatan Amrik. Orang asing - Jatuh Cinta - masalah - Balikan/gagal. Jadi ingat film kaya “the proposal” atau “10 things I hate about you” Anjir tua banget gue."

"Kan emang romance dimana-mana plotnya gitu!"

“Iya sih, kalau menurut gue sebagai cowok yah, novel ini ceritanya bagus, hanya saja tebal dan bikin gue malas baca printilan enggak penting. Sex scenenya OK lah, tapi ada beberapa hal yang diperlambat, kaya hubungan Tere dan Andre di awal. Menurut gue sih something missing with Tere' personality. Apa yah? Anaknya belum dewasa."

"Mungkin karena lo cowo kali yah, makanya lu fokus ke sex scenenya aja. Belum dewasa gimana si Tere?"

"Kalau kita menjurus ke teori Erikson, Tere ini berada di usia dewasa. Usia bisa beradaptasi, mampu memilih yang baik dan benar, dan memilih pasangan. Nah dua hal terakhir missed dari karakternya. Milih cowo bertunangan, dan dia itu mutusin cowo itu karena Jet bukan karena emang dia merasa cowo itu kurang baik. Gue ngerasa our leading role ini kesepian dan egois."

"Kalau itu gue setuju. Tere keliatan banget bimbang. Tipe-tipe orang dewasa yang masa remajanya bermasalah. Mending pacaran sama mantan yg udah punya tunangan, daripada sendirian. Banyak loh cewek kaya Tere di dunia nyata. Dia belum menemukan apa yang dia mau aja."

"Kalau menurut gue, Tere belum sayang sama dirinya sendiri. Dia juga agak egois.  Bukan hanya Tere sih Jetro juga. Keduanya masih egois dan enggan keluar dari posisi nyaman."

"Jetro dan Nadine' apartment. Haha bukan hanya cewe yah yang jadi piaraan tante-tante."

"Emang iya. Menurt gue sih, novelnya jujur mengisahkan kehidupan Jakarta yg bebas."

"Iya, novel yg enggak munafik kalau menurut gue. Baik Jeftro dan Tere keduanya nggak becus jadi orang dewasa. Baguslah keduanya bisa menyelesaikan masalah masing-masing. Masalah emang ada agar kita dewasa kan.”

“Benar banget, Ko. Gue rasa Tere beruntung punya sahabat-sahabat baik kaya Lisa atau Ryan. Kita butuh teman agar menajalani masa dewasa dengan baik, bukan hanya pacar aja. Teman yang bisa nerima kita apa adanya. Sebagai dewasa kita menyadari beberapa teman kaya ta*"

“Udah lu jangan ngomong jorok di sini!”

"Hahahah, eh tapi iya loh. Menurut gue masalah terberat di usia dewasa adalah patah hati baik karena pacar maupun karena kehilangan sahabat. Tere mampu bangkit dari patah hati itu sudah baik dan percaya deh sama seperti Tere, kita semua pasti pernah menjalani hubungan yang salah loh. Sama seperti Jetro juga."

“Kalau menurut gue kita semua pasti pernah memilih pasangan yang salah kaya mereka berdua. Pasangan yang sebenarnya enggak sayang sama kita, cuma buat nafsu doang. We have our version of Andre and Nadine. Orang yang berpikir mereka bisa memanipulasi kita. Lelah loh menjalin hubungan kaya gitu."

“Nah makanya semakin lu dewasa semakin lu tahu bahwa yang lu butuhkan selain uang dan cinta, pasangan yang menghargai elu.”

"Setuju, menghargai kita. Ini novel yang lumayan untu gue cowo penyuka romance. Kelebihan novel ini adalah tokoh-tokoh yang hidup, plot yang lumayan tak tertebak, dan tokoh utama mampu menyelesaikan masalahnya, meski dibantu sama penulisnya. Lumayanlah untuk romance Indonesia. Namun ada beberapa kekurangan.  Ge ngerasa di novel ini penyelesaian masalah klise banget, kaya sinetron. Udah dibangun dengan rapi, masalah yang mengebu-gebu, belakangnya gitu. Penulisnya enggak memberikan kesempatan untuk Jetro dan Tere menyelesaikan masalah mereka dengan menggunakan kematangan mereka. Menurut gue akan lebih bagus kalau Tere memaafkan Jet, karena dia sadar cinta bisa memadamkan dendam, bukan karena itunya. Dan Jetro juga meminta maaf dengan jantan enggak perlu ada tambahan si Ryan. Penulisnya terlalu ikut campur dalam  membantu masalah kedua tokoh utama kita dan mengarahkan semua toko pembantu untuk membantu mereka.”
 “Gue setuju deh sama elu, Ko. Menurut gue endingnya biasa aja. Namun semua terobati dengan cara bercerita dan jokes-jokes ringan. Kalau gue sih mencatat dua kekurangan di novel ini, 1. Blurbnya enggak banget, malas banget deh Gagas Media jaman old, blurbnya gituan. 2. Inikan POV orang ketiga serba tahu yah, tetapi enggak dapat aja gitu, apa yah, lebih menyorot ke Jetro dan Tere aja. Baru pindah ke tokoh lain ketika mereka memberi makna pada plot cerita. Over all bagus sih menurut gue.”

“Ini novel yang mengingatkan gue bahwa enggak apa-apa jatuh cinta pada orang yang salah, akan ada orang yang tepat yang akan membuat bahagia sesudahnya.”

“Yes, novel untuk orang dewasa yang menanti si orang yang tepat itu.”

“Berapa bintang Jen?

“Gue 3 dari 5”

“Hem hem hem.. Lain kali bolehlah kita baca buku lain novelis ini yah. Kayanya seru.”


"Yuks!”

Jumat, 29 April 2016



“I’d just be the catcher in the rye and all. I know it’s crazy, but that’s the only thing I’d really like to be. I know it’s crazy.”
― J.D. Salinger, The Catcher in the Rye

Buku kedua yang saya baca dan saya diskusikan dengan Joko tahun ini adalah Cather In The Rye. Buku ini adalah karangan JD Salinger, penulis Amerika yang memang cukup terkenal. Cather in the Rye mengisahkan tentang Holden, seorang bocah SMA yang dikeluarkan dari sekolahnya. Itu adalah sekolah kesekian yang mengeluarkan Holden. Karena kesal pada roomatenya, dia memutuskan untuk pulang ke Newyork, tiga hari lebih cepat dari yang diperkirakannya. Keputusan yang membuatnya mengalami banyak kejadian, dari bertemu pelacur yang suka memeras, dua biarawati, sampai kemudian kehabisan uang, hingga dia tiba pada satu titik, ketika dia tahu apa yang dia mau. Bagaimana kisah perjalanan Holden? Yah sebaiknya kamu baca sendiri.
The Cather in the Rye sendiri merupakan buku fenomenal dan banyak menjadi referensi bagi siswa SMA di Amerika. Hal  itu karena dalam buku in banyak sekali pesan terutama bagi siswa SMA yang memasuki rasa ingin tahu yang tinggi dan membutuhkan arahan. Trivia, Catcher in the Rye adalah buku yang digadang-gadang mengilhami pembunuh John Lenon. Ah yah begitu saya menyampaikan ke Joko, kalau saya membaca buku ini, ternyata dia juga sudah membacanya sejak lama. Dan inilah perbincangan kami  sore ini, tentang buku ini.
“Gue baru baca Catcher in the Rye dan menurut gue ini buku yang baik untuk membuka 2016,” ujar Saya pada Joko.
“Setuju. Gue baca buku itu empat tahun lalu saat gue masih 25 tahun. Dan gue bersyukur membaca buku itu di saat yang tepat.”
“Saat yang tepat gimana?”
“Lo taulah, Jen, 25 tahun itu gimana.. Masa-masa galau nggak jelas dan pencarian jati diri. Untuk pertama kalinya lo sadar lo udah nggak muda lagi dan lo belum pantas dibilang tua. Lo ngerasa lo nggak punya tempat di dunia ini dan menyaksikan teman-teman lo sudah memiliki hal berarti. Yah galau kaya gitulah. Ngerti kan?”
“Yah gue ngerasain sih galau yang lo bilang. Yah kadang emang gitu ada satu titik dalam hidup kita kita mempertanyakan segala sesuatu. Oke back to the book, menurut lo buku ini tentang apa, Ko?”
“Menurut gue buku ini tentang pencarian jati diri. Buku ini untuk mereka yang tersesat tapi nggak tahu gimana mesti pulang. Buku ini tentang bagaimana menghadapi masalah. Pernah nggak sih lo Jen merasa stuck dengan hidup lo. Lo ngerasa karir lo, hobbi lo, segala hal di seputaran lo nggak berarti lagi. Nah itu yang jadi premis dari novel ini. Ketika lo stuck dan nggak tahu mau ngapain yah lo jalani aja hidup lo.”
“Iya, buku tentang depresi kalau menurut gue.”
“Yaps JD Salinger mau menceritakan gimana depresinya seseorang yang mengalami transisi dalam hidup. Holden di buku ini yang digambarkan dari masa kecil ke masa remaja. Menurut pakar psikologi Erik Erikson manusia setidaknya mengalami tiga krisis dalam hidupnya. Krisis yang pertama saat lo remaja, saaat lo mencari jati diri lo kaya si Holden. Krisis kedua memasuki usia dewasa ketika akhirnya lo membangun keluarga lo sendiri. krisis yang ketiga nanti pas memasuki usia 50 tahun. Ketiga krisis itu digambarkan dalam 8 stage of life. Yah sebenarnya sejak bayi sampai tua manusia selalu punya masalah gitu. Jadi its okay kalau lo ada masalah, hidup emang masalah sih.”
“Gue jadi ingat sebuah teori yang gue baca di mana gitu tentang manusia, Ko. Bahwa kita hidup agar diuji coba. Sebenarnya kita hidup di dunia ini untuk mengalami yang namanya ujian sebelum kembali bersama Tuhan. Pantas aja kalau hidup kita selalu ada yang namanya ujian.”
“Itu kan semacam pola pikir yang tercipta ketika lo nggak bisa menemukan jawaban yang dapat diterima logika lo, jen.”
“Maksudnya gimana, tuh.”
“Maksud gue gini, pertanyaan tentang Tuhan sudah ada sejak dulu. Ada beberapa yang ngerasa stuck dan memutuskan daripada repot mikirin Tuhan, yah dia menghilangkan Tuhan itu sendiri. Terciptalah para Atheis. Ada yang merasa bahwa dalam pencarian akan Tuhan dia nggak akan nemu, tetapi merasakan bahwa Tuhan itu ada maka mereka bikin teori kaya yang lo bilang tadi. Gue sih merasa yah begitulah hidup. Lo bisa bertahan kalau lo bisa mengalahkan diri lo sendiri. Mengalahkan idealisme lo yang nggak masuk akal. Something like that, lah.”
“Yah seperti Holden. Gue tertarik gimana dia membahas tentang katolik. Tentang agama. Gue ngerasa kadang gue ngelabelin orang dari agamanya. Misalnya gini, gue ketemu dua orang satunya baik banget, tetapi karena dia agamanya beda dari gue, gue ngerasa ada penghalang aja. Sedangkan gue ketemu teman lain dia baik dan agama dia sama kaya gue jadinya lebih ramah gitu. Dan gue mengharapkan hal yang sama pada orang lain. Jadi ketika orang itu seagama ama gue, gue mengharapkan dia baik sama gue. Seperti itulah. Padahal sebenarnya gak boleh labelin orang. Iya nggak, Ko?”
“Ialah nggak boleh. Cuma yah sebagai manusia kita lemah, Jen. Dan sampai kapan pun di dunia ini yang kuat yang menang. Yang banyak uang yang berkuasa. Yah selama semua orang lebih ngejar hal duniawi sih. BTW balik ke Cather in the Rye. Menurut gue ini novel yang menawan. Gue membayangkan gue ada di posisi Holden. Kadang untuk menikmati hidup itu yah sesederhana membiarkan waktu berlalu. Jalanin aja. Walaupun banyak orang bilang hanya ikan mati yang mengikuti arus. Maksud gue kalau lo stuck dan nggak tahu mau ngapain dengan hidup lo yah bersikap lah seperti orang mati dan menyerahkan nasip lo pada semesta. Percaya atau nggak lo akan dituntut ke jalan yang benar. Sama kaya Holden yang menemukan apa yang dia inginkan akhirnya, setelah membiarkan waktu berlalu. Apa katanya. Kadang-kadang untuk mengetahui apa yang kita suka, kita lakukan apa yang tidak kita sukai hingga akhirnya kita tahu apa yang kita mau. Iya untuk tahu apa yang kita inginkan kita harus dikasih masalah dulu. Dalam karir misalnya lo dapat bos yang brengsek, itu buat lo belajar kalau jadi bos nggak sebrengsek itu. Atau dalam cinta. Gue yakin sekali dalam hidup seseorang dia akan patah hati. Nah patah hati itu bikin dia tahu apa yang dia inginkan dari sebuah hubungan. Jadi kalau lo ada masalah, bersukaria lah. Itu pertanda dari semesta bahwa lo akan menemukan apa yang lo inginkan dalam hidup.
“Fiuh iya lo benar, Ko. Buku ini emang keren yah.”
“Iya keren banget, Jen. Permasalahan yang dihadapi Holden dalam buku menggambarkan kehidupan manusia saat dia harus mandiri. Gue ngerasa Holden dikeluarkan dari sekolah itu semacam simbol ketika lo akhirnya keluar dari sekolah dan menghadapi dunia nyata. Pertemuan dengan dua biarawati katolik, agama. Dengan pelacur yang benama Honey itu, Seks. Dan ditutup dengan pertemuan dengan adik Holden. Keluarga. Iya tiga hal itu penting ketika lo mandiri. Agama, Seks, dan keluarga. Hahahha. Ngaco nggak sih gue?”
“Kenapa harus seks sih? Hahahah. Yang jelas buku ini emang juara yah, Kok.”
“Iya makanya gue mengharapkan semua orang membaca buku ini. Biar mereka tahu bahwa hidup yang mereka pikir biasa saja ini sebenarnya luar biasa bagi orang lain.”
“Jadi berapa bintang untuk buku ini Ko?”
“Lima dari Lima lah!”
***
Sampai Jumpa senin depan di Book with Joko yang lain😀

Rabu, 23 Maret 2016


Halo selamat pagi!
Ini adalah rubrik baru di blog aku yang berisikan percakapan seru antara aku dan alter egoku Joko. Kamu mungkin bertanya siapa itu Joko? Joko itu yah adalah alter egoku. Dia adalah Kepribadian lain dalam diriku yang tercipta akibat kesukaanku menulis. Joko adalah teman ngobrol yang asyik. Dia seorang laki-laki yang tahun ini berusia 29 tahun.  Lahir bulan November. Seorang Scorpio. Pecinta kopi dan sunrise. Sarjana Filsafat. Penulis cerita mesum. Dan menyukai perempuan berdada rata.
Oke kembali ke Book with Joko. Ini adalah sebuah blogpost yang akan tayang seminggu/duaminggu   tentang percakapanku dengan Joko seputaran  Buku bernas yang kami nonton dan baca. Semacam review dengan gaya yang berbeda. Aku dan Joko akan berbicara segala sesuatu dengan frontal dan percayalah akan terbaca vulgar. Jadi kalau belum usianya ngomong seks, jangan baca yah. Buku pertama kami adalah Sybil dan 16 Kepribadian
Saya membaca Sybil dan 16 kepribadiannya sejak kemarin dan hari ini memutuskan berhenti di halaman 261 dari 481 halaman. Buku ini membuat saya bersedih. Ceritanya sendiri menarik tentang kepribadian ganda. Sybil perempuan kikuk dan sangat kurus ternyata memiliki 16 kepribadian. Vicky adalah kepribadiannya yang paling vocal. Namun ketertarikan saya membaca buku ini berhenti di halaman 261, tepatnya setelah selesai membaca alasan kenapa kepribadian Sybil terpecah. Sybil mengalami kekerasan mengerukan oleh Ibunya yg menderita Scizofrenia. Saya menghabiskan sejam lebih memaki Ibu Sybil. Perempuan itu memang brengsek. Joko datang dan kami berdiskusi tentang buku ini.
“Menurut gue Harniet itu perempuan brengsekk. Sumpah kesel gue ama dia, Ko! Dasar bangke!”
“Harniet? Hettie keles. Lu mah suka memperkosa nama orang.”
“Peduli amat siapa namanya. Sumpah yah gue nggak habis pikir kenapa Ibu Sybil bisa sejahat itu. Bayangkan Ko dia menaruh benda-benda mengerikan ke dalam vaginaa Sybil sejak anak itu berumur 2tahun sampai rahimnya rusak. Ibunya nyetrika si Sybil juga. Bahkan yg paling ngeri dia bkn tulang Sybil patah. Mengerikannn. Sumpah deh.”
“Yah gue juga sedih baca itu, Jen. Gue berduka untuk semua anak-anak yang dibesarkan dalam penderitaan. Anak-anak yg dipaksa dewasa sebelum waktunya.”
“Iyaa, gue bersyukur dibesarkan dengan baik oleh kedua orangtua gue. Gue akhirnya mengerti mengapa jadi seorang Ibu itu harus berpendidikan. Membesarkan anak itu tidak mudah.”
“Memang iya karena pada umur 1-5 tahun otak kita kebanyakan menyerap-menyerap. Di sinilah saat ketika 90% alam bawah sadar kita terbentuk. Alam bawah sadar adalah midal kepribadian lo. Kalau alam bawah sadar lo positif lo bahagia, kalau nggak yah sebaliknya. Makanya mereka yg mengalami trauma saat kecil cenderung mengalami gangguan jiwa.”
“Yaps setuju. Lo dikatakan sehat jika kondisi fisik dan mental lo sehat. Mental yg sehat itu ada beberapa kategori diantaranya lo mampu beradaptasi dengan lingkungan, emosi lo stabil, Lo nggak meledak-meledak, Lo memakai nalar dalam melakukan sesuatu. Di sini gue jadi mikir yg salah dalam kasus Sybil adalah bapaknya. Bapaknya gak aware sama Ibunya yg gila itu.”
Ya mungkin karena bapaknya tipe kaya gitu kali yah. Yang menarik dari buku ini adalah bagaimana si hetti itu digambarkan sangat sensitif. Gue rasa ini bisa jadii syarat utama ketika lo mau nikah. Jangan pernah menikahi orang yg super sensitif. Kasihan anak lo ntar dibesarkan dengan penuh amarah.”
“Iya yah. Orang yg terlalu sensitif itu nggak seimbang emosinya masuk satu kategori nggak sehat jiwanya. BTW ada satu hal yg pengen gue bahas, Ko. Tentang anak-anak yang melihat orang tuanya bersenggama. Sybil sering melihat inj kan?”
“Nah iya ini menjadi catatan penting buat orangtua. Tahan nafsu deh jangan sampai ML di depan anak-anak atau nggak kalau mau ML kunci kamar lo. Makanya senaiknya anak2 di atas umur 3 tahun tidur terpisah dr orangtuanya. Menyaksikan orangtua senggama di usia kanak2 terlalu sering bikin jiwa mereka terganggu.”
“Sampai di sini gue yakin banget loh untuk menunda nikah. Gue ngerasaa gue belum serap banyak ilmu untuk jadi Ibu. Gue nggak mau pas punya anak gue marah-marah apalagi mukul. Gue butuh belajar sabar. Mann jadi orangtua itu sulit.”
“Gue belum pernah jadi orangtua sih, Jen. Yang pasti menurut gue yah lo harus mempersiapkan banyak hal untuk jadi orangtua. Menikah bukan hanya berarti lo siap jadi istri, tapi lo harus siap jadi Ibu. Siap jadi Ibu bukan hanya siap hamil dan melahirkan yang sakit tiu tetapi benar-benar tahuu apa yng dilakukan untuk anak lo. Belajar sabar. Belajar psikologis mereka.  Belajar perkembangan mereka. Belajar apa yg paling dibutuhkan manusia yaitu cinta kasih. Makanya jadi perempuan itu gak hanya modal cantik, modal pintar juga. Karena itu adalah aset lo membesarkan anak-anak lo.”
“Iya Ko iyaa.”
“Kalau mau menikah please jangan hanya jadi istri yang baik saja, jadi Ibu yang hebat juga terutama.
“Lalu bagaimana menurut lo buku Sybil?”
“Buku wajib dibaca orangtuaa biar tahu gimana cara bener urus anak.”
Itu aja percakapan sama Joko. Sampai jumpa minggu depan.

Minggu, 03 Januari 2016


Semua untuk India adalah buku yang saya baca bersama dengan Petra Book Club Ruteng.
Iksaka Banu bukanlah nama asing di dunia sastra Indonesia. Mengawali karir menulis cerpen remaja di majalah Ananda, kini berbagai cerita pendek yang ditulisnya dapat dijumpai di Horison, Koran Tempo, Metro, dan juga Femina. Semua untuk Hindia adalah Kumcer pertamanya. Banyak dari cerpen dai Kumcer ini telah diterbitkan majalah Tempo. 
Ada tigabelas cerpen di dalam kumpulan cerpen ini. Saya mencoba membuat review singkat dari ketiga belas cerpen tersebut.
  1. Selamat Tinggal Hindia, Berkisah tentang seorang wartawan yang mengunjungi, None Belanda yang dia sukai.
  2. Stambul dua pedang, Kisah tentang Nyai, istri seorang prajurit Belanda yang selingkuh dengan laki-laki pribumi. Pemain Stambul dan mantan wartawan.
  3. Air Susu dan keringat, Kisah tentang tentara Belanda yang pernah mencicipi air susu perempuan pribumi.
  4. Racun Untuk Tuan, Kisah tuan tanah Belanda yang harus menyepak gundiknya, karena kedatangan istrinya dari Belanda.
  5. Gudang nomor B12, Kisah hantu di sebuah Gudang yang ternyata adalah perempuan lepra
  6. Semua untuk Hindia, Kisah seorang wartawan Belanda yang resah melihat ulah tentara Belanda
  7. Tangan Ratu Adil, Kisah seorang Sersan Belanda yang harus menelan kekalahan, akibat ratu adil
  8. Pollux, Kisah Letnan Belgia yang ditangkap Belanda dan bertemu dengan Pangeran Dipenogoro.
  9. Di Ujung Belati, Berkisah tentang Sersan Belanda dengan pembantu pribuminya.
  10. Bintang jatuh. Kisah tentang Letnan Belanda yang menjalankan operasi pemusnahan Ras Tiongkok.
  11. Penujuk Jalan, Berkisah seorang dokter Belanda yang tersesat dan akhirnya dibantu Untung Suropati.
  12. Mawar di Kanal Macam, Kisah tentang seorang Letnan yang difitnah membunuh suami, kekasihnya.
  13. Sang Penabur,  Kisah tentang seorang novis yang melakukan perjalanan dengan seorang Pater, sambil mewartakan ajaran katolik di sebuah kapal Dagang.

Ketiga belas cerpen tersebut-sebut sama-sama bersetting antara tahun 1600- 1940. Dari ketika Cornelis De Houtman masuk ke Indonesia sampai kedatangan kedua Belanda setelah penjajahan Jepang.  Kala Indonesia masih menjadi Hindia dan tentara Belanda menguasai hampir semua penjuru Nusantara. Ketiga belas cerpen itu semuanya menggunakan POV orang pertama, dengan tokoh yang berbeda. Kebanyakan tokoh adalah tentara Belanda, kecuali Stambul dua Pedang (seorang Nyai), Selamat Tinggal Hindia dan Semua Untuk Hindia (Wartawan), Poloux (Tentara Belgia,) dan Sang Penabur (seorang Novis). Ketiga belas cerpen  di buku ini semuanya berlatar sejarah. Sejarah yang pahit. Setuju dengan perkataan Nirwan Demanto yang menulis kata pengantar di awal buku. 
“Jika teh manis tetaplah harus mengandung pahit supaya tak kehilangan rasa teh, begitu juga dengan cerita yang kita baca dalam bukunya.”

Ada tiga cerpen yang akan saya bahas lebih lanjut, karena memberi saya suatu pengalaman baca yang luar biasa dan membuat saya berpikir panjang. Cerpen yang bagus adalah cerpen yang membuatmu merenung.
Cerpen pertama, Selamat Tinggal Hindia. Ini adalah cerpen pembuka di Kumcer ini. Aku adalah seorang wartawan Belanda yang  kembali ke Indonesia pada tahun 1940an untuk mencari seorang None Belanda yang disukainya.  Nona Belanda  bernama Geertje itu kemudian diketahui berbalik mendukung Indonesia. Saya merasa ini pembukaan cerpen yang luar biasa. Benar-benar menampar saya telak. Walaupun Iksaka Banu tidak secara detail menjelaskan tentang kondisi paska kekosongan kekuasaan Indonesia di masa ini, saya seperti melihat paradox yang miris. Indonesia sudah merdeka, tapi kemerdakaan itu malah membuat semua orang melupakan kemerdekaan dan mulai menjarah sana-sini. Pahit yang pertama. Pahit yang kedua ketika mengetahui si None itu mendukung Indonesia. Saya tersentak, sebuah pertanyaan mendasar : “Kapan saya melakukan sesuatu untuk Indonesia?” tiba-tiba bergema di benak saya salah suatu perasaan yang ganjil. Semuanya berpusat pada satu hal, apa sih yang telah saya lakukan untuk Indonesia? Ini sebuah pertanyaan yang saya rasa tidak membutuhkan jawaban, tetapi pembuktian. Saya berasumsi, Iksaka Banu ingin menegur manusia Indonesia jaman sekarang yang telah buta oleh kebebasan dengan tulisan
“Selamat Tinggal Hindia, Selamat Satang Republik Indonesia”


Cerpen kedua, Racun untuk Tuan. Ini kisah seorang kepala perkebunan yang menghabiskan hari terakhirnya dengan Gundiknya, Imah. Selama bersama, si Tuan ini selalu curiga si Imah ini mungkin menyimpan racun di kopi yang biasa dia minum. Istri sah si tuan datang dari Belanda dan dia harus mendepak si Imah. Cerpen ini membuat saya mau tak mau berpikir tentang poligami. Tidak dapat dipungkiri praktik poligami Indonesia sudah ada sejak jaman penjajahan. Banyak sekali perempuan pribumi yang rela menjadi gundik dan ditinggal ketika para tentara atau pegawai Belanda itu kembali. Mungkin  inilah yang membekas di benak para pria pribumi karena sampai sekarang di beberapa daerah, Perempuan masih dikategorikan manusia kelas dua dan maraknya praktek poligami. Sayang benar, 360tahun menjajah Indonesia, Belanda hanya menurunkan hal buruk saja seperti korupsi, poligami, kekerasan, suka mabuk-mabukan. Sifat Imah yang nerimo membuat saya kesal dan menyadari itulah permasalahan utama dari isu kesetaraan gender di negeri ini. Perempuan menerima dengan lapang dada derita yang dia alami. Yang jelas, sikap pasrah Imah membuat saya mengutuk sikap pasrah perempuan yang rela diperlakukan tidak adil. Saya rasa saya memang telalu berlebihan mengkaji cerpen ini. Mungkin ketika kau mulai peduli pada isu feminism, fiksi tentang hal tersebut membuat kau berpikir dalam. Yang jelas cerpen ini membuat saya banyak merenung, terutama tentang Imah-imah yang masih hidup di masa sekarang. Imah yang pasrah saja diperlakukan tidak adil oleh laki-laki.
Cerpen ketiga, Sang Penabur. Alasan menyukai cerpen ini adalah karena saya Katolik. Sebejat-bejatnya orang Belanda itu, mereka mengingat Tuhan. Lucu juga sih mereka menjajah negara lain, merampas hak asasi manusia, dan seolah tahu perbuatan mereka dosa mereka mendatangkan Pastor-pastor atau pendeta-pendeta dari tanah mereka Ke Indonesia. Berharap Tuhan mengampuni apa yang mereka lakukan dengan menyebarkan ajaran Tuhan. Saya menyukai cerpen ini karena tokoh Paternya. Si Pater Van Der Gracth yang cerewet bukan main. Mengatasnamakan Tuhan di atas segalanya. Menjadikan agama itu penting dan mengkafirkan orang lain. Yaps ini wajar karena pada tahun kejadian, belum ada konsili vatikan kedua, belum ada pembaharuan di gereja katolik. Iksaka Bana dengan jeli melihat dampak kedatangan Belanda, salah satunya yah dengan agama ini. Cerpen ini pantas benar diletakkan paling terakhir. Dibuka dengan tamparan keras tentang nasionalisme dan ditutup dengan perenungan dalam soal spiritual. Great job, Mr. Iksaka.

Secara keseluruhan ketigabelas cerpen dalam  Kumcer ini menawan. Iksaka menghadirkan hal baru dalam sastra Indonesia. Saya tidak belajar Sastra Indonesia secara khusuk. Namun yang jelas ide tentang mengangkat setting penjajahan Belanda adalah ide yang luar biasa. Yaps banyak sekali kisah yang bisa terjadi dan Iksaka jeli melihat hal itu. Sejujurnya saya sendiri muak juga membaca rubrik cerpen di koran sekelas Kompas, Tempo dan lain-lain akhir-akhir ini. Semuanya bertema kritik social, entah itu mengkritik cara hidup masyarakat Indonesia, cara pemerintahan jokowi atau SBY,TNI/Polri, dan lain-lain. Iksaka Bana dengan setting Hindia Belanda seumpama oase di tengah egersangan ide literature. Uniknya kita selalu bisa mengaitkan peristiwa yang terjadi di cerpen-cerpennya dengan peristiwa yang terjadi dengan hal sekarang. Yah memang kita selalu belajar dari sejarah dan Bung Karno tahu itu sejak lama. Yang jelas Iksaka adalah pencerita ulung.
Saya merasa kumpulan cerpen ini layak mendapat empat bintang. Saya ingin memberi lima bintang sih, tapi saya bosan di beberapa cerita. Jadi yah saya rasa empat bintang cukup. Buku yang menarik.
(Ajen Angelina)


Keterangan Buku
Judul Buku : Semua Untuk Hindia
Penulis : Iksaka Banu
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit : 2014